Menyapa Jogja dari Pasar Beringharjo

Salah satu kota yang sering ku kunjungi sejak zaman kuliah dulu adalah Jogjakarta. Selalu ada setangkup rindu yang menyeruak. Seperti lirik lagu Kla Project yang selalu terngiang dan menjadi lagu wajib saat bertandang ke Kota Sultan Hamengkubuwono X.

Menyapa Jogja dari Pasar Beringharjo
Menyapa Jogja dari Pasar Beringharjo
  • Pulang ke kotamu
  • Ada setangkup haru dalam rindu
  • Masih seperti dulu
  • Tiap sudut menyapaku bersahabat,

 

  • penuh selaksa makna
  • Terhanyut aku akan nostalgi
  • Saat kita sering luangkan waktu
  • Nikmati bersama
  • Suasana Jogja
  • Musisi jalanan mulai beraksi
  • Seiring laraku kehilanganmu
  • Merintih sendiri
  • Ditelan deru kotamu …

 

  • Walau kini kau t’lah tiada tak kembali
  • Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
  • Ijinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi
  • Bila hati mulai sepi tanpa terobati

Sekalian saja saya lampirkan videonya agar perjalanan wisata ke Jogjakarta kali ini semakin terasa dalam. Ada beberapa tempat yang selalu sayang untuk dilewati. Kebanyakan memang wisata kulinernya sisanya wisata musem dan sejarah serta pertanian. Untuk bisa terkoordinasi dengan baik, kita bisa mencari paket wisata jogja untuk memudah perjalanan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Mau ikut saya kali ini? ayo kita mulai

Plesir di Malioboro

Sepanjang jalan ini begitu hidup dari pagi hingga pagi lagi, seperti tak ada matinya. Seniman jalanan memenuhi beberapa sudut Malioboro dan mempertontonkan keahliannya yang bermacam macam. Tak melulu uang, bisa jadi mahasiswa seni yang sekalian melatih kemampuan. Pertunjukan jalanan ini jadi daya tarik tersendiri. Banyak pula jajanan kaki lima yang menyemut disekitar keramaian. Makanan jalanan sederhana yang hanya digoreng atau di panaskan diatas bara bersama sungguh nikmat.

 

Beberapa tempat wisata diseputaran Malioboro yang bisa dikunjungi seperti:

  • Pasar Beringharjo
  • Taman Pintar
  • Keraton Yogyakarta
  • Taman Sari Keraton Yogyakarta
  • Tugu Jogja
  • Alun-alun Kidul
  • Museum di Jalan Malioboro
  • Museum Sonobudoyo
  • Benteng Vredeburg
  • De Mata Trick Eye Museum

Adakah lokasi yang sangat menarik hati?

Menikmati Sapaan Pasar Beringharjo

Kalau saya lebih memilih Pasar yang lebih dahulu dikunjungi. Lihat saja hiruk pikuk dipintu masuk mulai pagi hari. Berderet penjual makanan seperti nasi campur dan nasi pecel yang memenuhi mulut pasar. Sayapun tidak mau ketinggalan untuk duduk manis mencicipi.

Nasi pecel sederhana saja, nasi putih diletakkan diatas daun pisang, kemudian diberi aneka sayur rebus lalu diberi saus kacang yang telah berbumbu dan berempah. Rasanya yang legit dan pedas bercaumpur dengan aneka kuluban yang beraneka warna dan tekstur. Tak lupa peyek kacang menjadi sampingan yang memberikan tekstur renyah saat dikunyah. Lauk lain bisa dipilih untuk melengkapi, sudah tersusun ciamik diatas lapak penjual, tinggal pilih saja. Harga? cukup murah, mulai dari 10 ribuan. Jika kepincut dengan rasa saus kacangnya, Ibu penjual menyediakan bumbu pecel kering yang bisa disunting untuk dibawa pulang.

Keramahan pasar ini selalu sana, hirup pikuk orang lalu lalang berbelanja kain batik dan aneka busana tak pernah sepi. Setiap los dikunjungi oleh orang-orang. Kebanyakan wisatawan yang sibuk menawar harga. Sudut lain yang tak bisa dilupakan adalah penjaja bakpia dengan aneka isian, kacang hijau, coklat hingga keju. pilih saja sesuka hati untuk dibawa pulang menjadi oleh oleh selain menenteng kantong belanjaan berisi Batik

Mbah Hari Penjaga Rasa

Beruntung rasanya tanpa sengaja saya bertemu dengan Mbah Hari yang tekun menjual es dawet sejak 1965. Mbah Hari konsisten menjaga rasa sejak puluhan tahun lalu. Resep warisan keluarga ini dijual sederhana sejak dirinya belia, mengikuti sang nenek berjualan di pasar Beringharjo. Dalam mangkuk dari batuk, dawet ini disajikan. Isinya ada Cincau, santan, cairan gula, nangka, dan es batu menjadi perpaduan bahan-bahan lezat saat lelah berkeliling pasar. Es dawet ini memang sudah melegenda, tapi tidak membuat harga es dawet ini menjulang. Satu porsi mangkuk es dawetnya dihargai Rp 5.000 saja.

Dalam sehari, mbah Hari bisa menyajikan sekitar 100 hingga 125 mangkok es dawet. saat saya mampir, bangku bangku plastik pendek dipenuhi pembeli yang datang silih berganti, ada yang semangkuk tapi ada pula yang hingga 3 mangkuk sekali duduk! Karena sejak dibuka sekitar jam setengah 10 pagi, pembeli sudah padat mengunjungi lapak mbah Hari yang berada di pintu pertama pasar Beringharjo disebelah sayap utara.

Mbah Hari mudah dikenali dengan kebaya dan jarik serta keranjang yang tersusun rapi berisi campuran dawet. Senyumannya selalu mengembang dan ramah menyapa semua pembeli yang datang. Rasa, aroma dan senyum Mbah Hari yang otentik. membuat paduan ini sayang unruk dilewatkan.

Keramahan Jogja Ada dimana mana

Tak bisa dipungkiri, selain banyak memiliki tempat wisata, keramahan penduduknya membuat semua orang betah berlama – lama menghabiskan waktu berlibur disini bahkan sampai memutuskan untuk menetap. Jogja jadi salah satu tempat menikmati akhir minggu dan liburan yang menyenangkan.

 

Post Author: Dony Prayudi

Tukang jalan dan tukang makan yang selalu menuliskan ide besar di blognya dan mengabadikan gambar lewat mata kamera

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *