Rainforest World Music Festival Hari pertama, Senyum Puas Terkembang saat Pulang

Cuaca siang ini cukup panas untuk menonton Rainforest World Music Festival, namun tidak menyurutkan penonton untuk masuk dan menyaksikan berbagai workshop yang ada di Sarawak Cultural Vilage. Hanya dengan membayar 130 ringgit untuk sekali masuk maka festival goers bisa menikmati semua workshop dan pertunjukan yang diadakan satu hari penuh. Pintu masuk sudah di buka mulai pukul satu siang dan penonton dapat membeli langsung di gerbang masuk utama. Jika sudah membeli tinggal menukarkan dengan gelang plastic tahan air yang berganti warna sepanjang hari.

Rainforest World Music Festival
Rainforest World Music Festival

Saat masuk, penonton diwajibkan untuk di periksa dan di larang keras membawa makanan ke dalam lokasi. Semua tertib masuk mengikuti aturan. Ada 5 tempat yang mwmbuka workshop di bagi menjadi 3 bagian dan di mulai pukul 14.15 dan berdurasi selama 45 menit dan kemudian jeda tiap 15 menit untuk mempersiapkan workshop selanjutnya.

Yang cukup menarik hari ini adalah workshop dari Tanbou Se Rasin Ayiti dari Haiti yang dengan gambling menjelaskan bagaimana musik dan tarian dalam upacara voodoo yang ada di Haiti. Hampir sama seperti di Indonesia, walaupun mereka sudah memiliki agama, ritual voodoo tidak dapat dipisahkan dalam kehidupannya sehari-hari. Setiap gerakan dan bunyi tetabuhan serta instrument menjadi satu dalam nada. Sesekali saya harus merinding melihat gerakan yang patah-patah seperti mempunyai kekuatan magis.

Workshop berikutnya yang tidak kalah menarik adalah bagaimana menari dan menyanyi India yang berlangsing di dewan Lagenda. Penonton memenuhi hall dari depan hingga ke belakang dan menikuti instruksi yang diberikan Jamel Kaur dan Dheerajh Sherestra dari Dya Singh. Alunan musik Bollywood yang khas diiringi dengan liukan badan yang menggambarkan kehidupan sehari-hari menjadi hal yang terlihat mudah dilakukan. Dengan diiringi table seluruh peserta workshop tidak berhenti menari dan terus meminta lagi.

Setelah semua workshop selesai. Saatnya panggung utama di buka. Ada dua, Jungle stage dan tree stage yang menampilkan 7 penampil. Malam ini tidak kurang 8 hingga 9 ribu penonton memadati lapangan Sarawak Cultural Village. Semua siap bersuka ria. Sebagai penonton yang suka menikmati pesat. Ini tentu saja membuat mereka bergembira.

Di buka dengan permainan Sape dari Sarawak sebagai ciri khas Rainforest World Music Festival membuat penonton makin merasakan nuansa Borneo. Musik damai membawa penonton menyatu dengan hutan. Berpindah ke suku Aborigin dari Australia, Naygayiw Gigi Dance yang lengkap dengan seluruh pernak pernik khas suku yang masih berkerabat dengan Papua. Muka yang penuh dengan lukisan di tambah dengan peralatan perang dan hidup sehari-hari yang ternyata bisa menjadi alunan nada, apalagi penari yang sungguh bersemangat membuat penonton terbakar.

Selain itu ada Unique Arts Academy, Violons Barbares yang merupakan gabungan dari 3 negara (Bulgaria, Mongolia dan Perancis). Indonesia sendiri diwakili oleh Dol Arastra yang terdiri dari 6 orang yang membawa gendang dan dua kali lebih besar dari badannya sendiri. Dengan formasi apik, gerakan rancak serta hentakan yang dari awal hingga akhir tak ada hentinya membuat penonton bersorak sorai tiada henti. Saya merasa bangga dengan perwakilan Indonesia. Luar biasa.

Krar Collective dari etiopia juga tak mau kalah. Dengan musik yang sederhana hanya ada instrument mirip gitar dan tetabuhan mereka menghibur penonton yang semakin panas. Sang vokalis wanita berganti pakaian hingga 6 kali menyesuaikan karakter lagu yang dibawakan. Saya takjub dengan gerakan dan tarian kepala yang dilakukannya. Butuh tenaga yang luar biasa dan tentu penonton makin riuh rendah dan meberikan tepuk tangan. Di tutup dengan penampilan Auli dari Latvia, Negara baltig yang sungguh indah ada 10 orang dengan alat musik bag pipe dan sebuah gendering besar yang diakui sebagai yang terbesar di Latvia. Ukurannya sebesar 3 kali pemainnya. Bisa terbayangkan betapa repotnya membawa tabuhan ini. Sungguh luar biasa.

Hari pertama membuat penonton tidak sabar menunggu hari kedua. Rainforest World Music Festival tahun ini benar-benar membawa penonton kembali keakarnya. Penampil dari berbagai belahan dunia dengan alat musik tradisionalnya membuat saya benar benar berkeliling dunia. Hari pertama sudah sangat berkesan. Penonton puas dan pulang dengan senyuman. Hari ke dua pasti lebih seru lagi.

Post Author: Dony Prayudi

6 thoughts on “Rainforest World Music Festival Hari pertama, Senyum Puas Terkembang saat Pulang

    bersapedahan

    (September 15, 2016 - 6:51 pm)

    acaranya bener2 dikemas semenarik mungkin ya … supaya penonton puas dan mau kembali lagi nanti 🙂

      Dony Prayudi

      (April 27, 2017 - 5:38 am)

      Iya mas, tiap tahun makin rame aja yang dateg. kebanyakan mancanegara sih ya

    Sandi Iswahyudi

    (September 16, 2016 - 1:10 pm)

    Kalau soal musik, saya mulai suka musik2 tradisional Indonesia mas. seperti Sasando. Alat musik yang sederhana, namun bisa mengiringi lagu mancanegara.

      tukangjalanjajan

      (October 1, 2016 - 6:29 pm)

      kebetulan tahun ini dari Indonesia di wakili musik Dol dari bengkulu mas

      Dony Prayudi

      (April 27, 2017 - 5:37 am)

      Seru lho mas. Tahun depan dateng deh.pasti tiap tahun jadi kepengen dateng lagi

    helmavania

    (October 3, 2016 - 9:39 am)

    Seru sekali baca cerita nyaaa. Jadi pingin tau yang ritual voodoo nya sama pingin gelang yang berubah2 warna terus. Hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *