Selamatkan Hutan Indonesia dengan HCS Toolkit  

Indonesia selalu dianggap paru paru dunia karena hutannya yang luas. Belum lagi jumlah flora dan fauna tropisnya nomor dua terbesar dunia setelah Amazon. Bisa dibayangkan betapa kayanya komposisi flora dan fauna hutan Indonesia. Saat ini semua mulai tergerus karena pembangunan ekonomi yang pesat. Alih fungsi lahan menjadi isu yang paling gencar, mulai dari pertambahan penduduk yang menyebabkan lahan hutan berubah fungsi mejadi kota baru atau pembukaan lahan perkebunan yang pesat.

Hutan Kalimantan yang tersisa, masih hijau dan nyaman dilihatHutan Kalimantan yang tersisa, masih hijau dan nyaman dilihatHutan Indonesia harus di jaga karena merupakan rumah dan perlindungan terakhir bagi kekayaan dunia yang meliputi 12 persen spesies mamalia, 7,3 persen spesies reptil dan ampibi, serta 17 persen spesies burung dari seluruh dunia. Hutan Indonesia yang luas memegang peranan penting dalam menjaga kestabilan iklim dunia melalui proses fotosintesis tumbuh-tumbuhannya. Tidak hanya untuk Indonesia namun juga dunia

Saat ini pemerintah berusaha membuat menahan laju pengrusakan hutan dengan berbagai kebijakan. Hutan Indonesia sepertinya tidak hanya menjadikan tanggung jawab negara ini namun negara lain yang mulai merasakan dampak pemanasan global yang terdengar menakutkan.

Selamatkan Hutan, Tingkatkan Kepedulian & Gapai Harapan Bersama HCS Approach Toolkit Versi 2.0
Selamatkan Hutan, Tingkatkan Kepedulian & Gapai Harapan Bersama HCS Approach Toolkit Versi 2.0

Mungkin kita bisa merasakan dampaknya langsung saat ini, mulai dari musih yang tidak tentu. Kekeringan berkepanjangan, sungai mengering serta cuaca panas yang diluar dari kebiasaan. Musim pancaroba yang lebih panjang terasa mengganggu aktifitas. Sungguh alam ini sudah menunjukkan gejala alam yang sungguh menakutkan. Akankah kita terus tinggal diam?

 

Manusia Berusaha Tetap Menghijaukan Hutan

Hutan menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia. Mau tidak mau, hutan menunjang kehidupan walaupun mungkin banyak yang berpikir tidak berhubungan langsung. Beberapa hal ini dapat pemerintah lakukan untuk membantu paru-paru dunia ini tidak berhenti bernafas

  • Hutan dulu dan sekarang
    Hutan dulu dan sekarang

    Melakukan Reboisasi.

Reboisasi adalah salah satu alternatif untuk melestarikan hutan. Kita dapat menanam kembali hutan – hutan yang sudah rusak, sehingga hutan akan tetap terjaga keberadaannya. Cara ini pernah dilakukan berkali-kali oleh pemerintah terhadap hutan-hutan yang rusak akibat pemalakan liar dan kebakaran hutan atau rusak akibat bencana.

Menerapkan Sistem Tebang Pilih.

Pemerintah harus menerapkan sistem tebang pilih dalam menebang pohon. Hal ini dapat mengurangi penebangan hutan secara liar dan dalam jumlah besar – besaran. Selain itu system ini juga berguna untuk masyarakat agar tidak sembarang dalam melakukan penebangan hutan. Tebang pilih biasanya diperuntukkan bagi perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) atau juga masyarakat yang mengelola hutan dikampungnya.

  • Menerapkan Sistem Tebang – Tanam.

Sistem ini sangat berguna bagi pelestarian hutan. Sistem penebangan hutan yang kemudian diganti dengan menanam hutan yang telah ditebang agar hutan tetap terjaga keberadaannya. Setelah pohon diambil dan digunakan, harus ada peremajaan kembali dengan cara menanam pohon yang sudah ditebang. Satu pohon ditebang maka harus ada satu pohon ditanam.

  • Menerapkan Larangan Penebangan Hutan Secara Sewenang – wenang dan Memberikan Sanksi yang Berat Bagi Pelakunya.

Selain masyarakat yang harus menjaga kelestarian hutan, pemerintah juga harus ikut terlibat dalam pelestarian hutan. Pemerintah harus ikut turun tangan dalam pelestarian hutan ini. Sebaiknya, pemerintah juga memberikan sanksi yang berat bagi para pelakunya, yang bisa membuat mereka jera dan tidak melakukan kesalahan mereka lagi. Inilah yang menjadi pekerjaan besar bagi pemerintah hingga saat ini.

 

Kolaborasi Demi Hijaunya Hutan

Rasa memiliki hutan ternyata menggerakkan banyak pihak untuk bekerja sama menjaga hijaunya hutan. Ada kolaborasi baik yang berhasil menyatukan banyak organisasi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Perusahaan dan banyak piha yang perduli terhadap lingkungan untuk menjaga kelestariah hutan. Kolaborasi ini tergabung dalam HCS Approach Steering Group. Terbentuk di tahun di tahun 2014 dan bertujuan untuk mengawasi pengembangan metodologi untuk menjaga kelestarian hutan. HCS Approach sendiri merupakan  sebuah metodologi yang digunakan untuk mencegah kerusakan hutan.

koalisi antara industri dan Organisasi Non-Pemerintah(LSM).
koalisi antara industri dan Organisasi Non-Pemerintah(LSM).

Dari sini pada tanggal 3 Mei 2017 lalu, di Bali, lahir HCS Approach Toolkit yaitu sebuah metodologi untuk menerapkan praktek non-deforestasi (anti perusakan hutan). Jadi manusia tetap bisa memanfaatkan hutan dengan tidak menyebabkan kerusakan karena toolkit ini berguna untuk mengidentifikasi mengidentifikasi lahan-lahan yang dapat diolah sebagai areal produksi komoditas yang bertanggung jawab dan melindungi hutan alam tropis.

 

koalisi antara industri dan Organisasi Non-Pemerintah(LSM).
koalisi antara industri dan Organisasi Non-Pemerintah(LSM).

Tidak ada kata terlambat karena waktu terus berjalan. Sebagai sumber energi terbarukan, hutan yang sudah sakit masih bisa kita obati, rawat dan perbaharui sehingga fungsi dan keberadaaannya bisa normal kembali. Metode HCS Approach Toolkit lahir untuk melindungi hutan alam. Tidak hanya itu, metodologi ini juga dapat mengidentifikasi wilayah dan daerah hutan mana saja yang dapat diolah sebagai areal produksi komoditas secara baik dan bisa dipertanggung-jawabkan.

koalisi antara industri dan Organisasi Non-Pemerintah(LSM).
koalisi antara industri dan Organisasi Non-Pemerintah(LSM).

Lahirnya metodologi hebat ini berkat kepedulian dan kerjasama perusahaan industri dan organisasi non pemerintah alias lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang peduli akan lingkungan khususnya kondisi hutan. Terbentuklah HCS Approach Steering Group yang berpusat di Kuala Lumpur, Malaysia. Beranggotakan 9 anggota executive yaitu perusahaan Asia Pulp & Paper, Forest Peoples Programme, Golden Agri-Resources, Greenpeace, Rainforest Action Network, TFT, Unilever, Wilmar International Ltd., dan WWF.

koalisi antara industri dan Organisasi Non-Pemerintah(LSM).
koalisi antara industri dan Organisasi Non-Pemerintah(LSM).

Ditambah anggota non executive diantaranya perusahaan Asian Agri, BASF, Conservation International, Daemeter, EcoNusantara, Forest Heroes, Golden Veroleum (Liberia) Inc., Mighty, Musim Mas, National Wildlife Federation, New Britain Palm Oil Ltd., Proforest, P&G, Rainforest Alliance dan Union of Concerned Scientists.

 

High Cabon Stock (HCS) Approach Toolkit Versi 2.0

Toolkit ini adalah sebuah terobosan bagi berbagai perusahaan, masyarakat, institusi, dan praktisi teknis yang memiliki komitmen bersama untuk melindungi hutan alam sekunder yang telah mengalami regenerasi, yang menyediakan cadangan karbon penting, habitat bagi keanekaragaman hayati, dan mata pencaharian bagi masyarakat lokal. Dengan kata lain, metodologi ini berfungsi untuk menjaga kelestarian hutan kita.

High Carbon Stock (HCS) Approach Toolkit
High Carbon Stock (HCS) Approach Toolkit

HCS Approach Toolkit Versi 2.0 ini merupakan penyempurnaan dari versi sebelumnya yang telah dirilis pada April 2015. Versi 2.0 ini meliputi penelitian ilmiah terbaru, evaluasi dari percobaan lapangan, serta topi-topik baru dan masukan-masukan dari berbagai kelompok kerja HCS Approach Steering Group.

 

Isi Modul HCS Approach Toolkit Versi 2.0

HCS Approach Toolkit Versi 2.0 ini berisi modul untuk mensosialisasikan dan menerapkan praktek pengelolaan hutan dengan cara tidak merusaknya secara sistematis dan sejalan dengan metode pelestarian hutan lainnya. Toolkit ini terbagi menjadi 7 modul.

Selamatkan Hutan, Tingkatkan Kepedulian & Gapai Harapan Bersama HCS Approach Toolkit Versi 2.0
Selamatkan Hutan, Tingkatkan Kepedulian & Gapai Harapan Bersama HCS Approach Toolkit Versi 2.0

Dalam Toolkit dijelaskan langkah pertama membuat HCS Forest Map yang memerlukan empat modul pendukung. Modul pertama adalah pendahuluan mengenai HCS Approach itu sendiri dan modul kedua berisi edukasi Team HCS Approach terkait sosialisasi dengan penduduk setempat. Modul ketiga tentang pengintegrasian HSC Approach dengan penelitian areal lahan dan penduduk setempat dengan penilaian HCV (High Coservation Values). Modul keempat berisi pembagian lahan hutan berdasarkan vegetasinya. Pada bagian ini Team sudah mendapatkan HCS Forest Area dengan keterangan ukuran dan hubungan antar HCS Forest yang akurat.

Selamatkan Hutan, Tingkatkan Kepedulian & Gapai Harapan Bersama HCS Approach Toolkit Versi 2.0
Selamatkan Hutan, Tingkatkan Kepedulian & Gapai Harapan Bersama HCS Approach Toolkit Versi 2.0

Langkah kedua Membuat Analisa HCS Forest Patch yang dikerjakan berdasar modul 5-7. Saat memetakan lahan konservasi dan penggunaan lahan diperlukan analisa HCS Forest Patch, merekrut komunitas terkait dan mengontrol kualitas HSC Approach. Dalam pelaksanaannya mengambil manfaat dari hutan dipergunakan skala prioritas.

 

 

Tahapan Penggunaan HCS Approach Toolkit Versi 2.0

Ada 3 tahapan HCS Approach Toolkit Versi 2.0 ini. Tahap pertama adalah melakukan pemetaan HCS Forrest. Ada 4 langkah dalam tahap pertama ini, yaitu pendahuluan mengenai HCS Approach, mengenal kearifan penduduk setempat, mengintegrasikan HCS Approach terhadap penduduk setempat, dan yang terakhir yaitu mengklasifikasikan hutan berdasarkan vegetasinya via satelit.

Setelah tahapan pertama, tahap kedua dan ketiga adalah menganalisa HCS Forrest Patch, mengusulkan peta konservasi dan penggunaan lahan terpadu, serta perlindungan terhadap hutan.  Ada 3 langkah yang dilakukan pada tahap ini, yaitu:

  • Manganalisa HCL Forrest
  • Menyampaikan isu-isu kepada smallholder dan komunitas yang berpartisipasi mengenai lanskap hutan
  • Kontrol kualitas HCS Approach yang transparansi

 

Lestarikan Hutan dengan HCS Approach Toolkit versi 2.0

HCS Approach Toolkit versi 2.0 yang telah disempurnakan yang dirilis hari ini telah meliputi penelitian ilmiah terbaru, evaluasi dari percobaan lapangan, serta topik-topik baru dan masukan-masukan dari berbagai kelompok kerja HCS Approach Steering Group, sebuah organisasi keanggotaan yang terdiri dari berbagai pemangku kepentingan yang mengatur HCS Approach.

Hutan Kalimantan yang tersisa, masih hijau dan nyaman dilihat
Hutan Kalimantan yang tersisa, masih hijau dan nyaman dilihat

Toolkit baru ini juga menyajikan penyempurnaan, penambahan dan perubahan-perubahan penting pada metodologinya, sebagai hasil dari ‘Kesepakatan Konvergensi’ antara HCS Approach dan HCS Study, pada November 2016 lalu. Dengan telah dilengkapinya HCS Approach Toolkit Versi 2.0, HCS Steering Group saat ini dapat fokus pada uji coba metodologinya, agar dapat disesuaikan bagi para petani kecil, serta memperkuat persyaratan sosial yang dikembangkan sebagai bagian dari proses konvergensi HCS.

Kunjungi web highcarbonstock.org, twitter dan youtube untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dan mencari tahu bagaimana menggunakan toolkit versi terbaru 2.0. Mari bergandengan tangan dan melangkah bersama untuk melestarikan hutan Indonesia agar bisa dinikmati anak cucu kelak

 

 

Post Author: Dony Prayudi

Tukang jalan dan tukang makan yang selalu menuliskan ide besar di blognya dan mengabadikan gambar lewat mata kamera

8 thoughts on “Selamatkan Hutan Indonesia dengan HCS Toolkit  

    Ega Tiara

    (June 16, 2017 - 10:09 am)

    Sedikit perlu waktu untuk memahaminya. Tapi yang pasti tool kit nya sangat bermanfaat demi kelestarian Hutan kita. Semoga berdampak baik untuk semua.

      Dony Prayudi

      (June 18, 2017 - 5:39 am)

      iya. pasti berdampak baik bagi kita semua. yuk jaga huta dengan baik

    Dian Ravi

    (June 19, 2017 - 6:37 am)

    Metodologinya masuk akal meski pasti pelaksaannya enggak mudah. Semoga bisa diterapkan dengan baik dan benar ya, biar hutan kita enggak semakin rusak.
    Btw, aku baru kali ini main ke blog yang ini. Baru ya, Mas?

      Dony Prayudi

      (June 20, 2017 - 4:10 am)

      Baru aku beliin domainnya hahahahah. lama jablay dan sekarang baru keurus

    Nia K. Haryanto

    (June 20, 2017 - 7:52 pm)

    Wah, keren. Semoga banyak yang menggunakannya, ya. Biar hutan kita secara khusus, dan hutan dunia secara umum bisa terjaga. Miris banget sekarang ini lihat lahan hutan yang semakin sedikit. Alam juga jadi berasa gak bersahabat gara-gara ini. 🙁

      Dony Prayudi

      (June 21, 2017 - 3:26 am)

      Semoga huta kalimantan dan hutan lainnya dapat terjaga dan tetap hijau sehingga kita masih bisa bernafas dengan lega

    Hello Fika

    (June 21, 2017 - 9:39 am)

    Semoga melalui tulisan ini sosialisasi ttg toolkits ini makin meluas. Dan yg berkepentingan dapat memanfaatkannya dengan maksimal. Aamiin

      Dony Prayudi

      (June 22, 2017 - 7:40 am)

      Semoga hutan di Indonesia bisa terlindungi dan tentu saja masyarakat bisa menggunakannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *